Selasa, 28 Februari 2012

Daerah

Gempa dan Hujan Badai Mendera Bengkulu
Nasional / Senin, 5 Maret 2012 08:53 WIB
Metrotvnews.com, Bengkulu: Gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter mengguncang Bengkulu, Senin (5/3) pagi. Hujan badai pun membuat warga semakin trauma. "Saya terpaksa tidak masuk kerja karena masih trauma diguncang gempa disertai hujan badai sehingga tidak ke kantor," kata seorang warga Kota Bengkulu yang juga pegawai negeri sipil, Buslian. Ia mengatakan, guncangan gempa disertai hujan badai sangat menakutkan. Apalagi dirinya masih trauma dengan dua kali gempa besar melanda Bengkulu beberapa tahun lalu. Meskipun dinyatakan aman dari gempa susulan dan tsunami, para pegawai tertunda ikut apel pagi. Mereka tidak bekerja sama sekali. Di beberapa ruas jalan raya di Kota Bengkulu, kemacetan arus lalu lintas terjadi. Selain anak-anak dan pegawai yang akan berangkat kerja, warga lain pun sibuk mencari lokasi aman dari ancaman tsunami. Mereka khawatir lantaran cuaca di kota tersebut gelap. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kepahiang Dadang P menjelaskan, gempa 5,5 SR itu berlokasi di 4.43 Lintang Selatan dan 102.57 Bujur Timur. Pusat gempa sekitar 46 kilometer tenggara Seluma, Bengkulu. Kedalaman gempa sekitar 15 kilometer. Bengkulu dua kali diguncang gempa besar yaitu pada 2000 dengan kekuatan 7,3 SR dan pada 2007 mencapai 7,9 SR. Gempa menghancurkan ribuan rumah penduduk dan menelan ratusan korban jiwa. Kerugian akibat bencana itu ditaksir ratusan miliar rupiah.(Ant/RRN)

Setelah Bunuh Anaknya, Herawati Bunuh Diri

Terlilit Utang

Sabtu, 03 Maret 2012 BOJONGSOANG,(GM)- Kejadian tragis dialami keluarga Dede Rusli (60), warga Kampung Cigebar, RT 06/RW 01, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Dalam satu hari, Dede harus kehilangan istri dan anak bungsunya. Herawati (35) dan anaknya, Dika Setiawan Putra (4,5) meninggal dengan cara tidak wajar, Jumat (2/3). Herawati mengakhiri hidup dengan cara memotong urat nadi pergelangan tangan kiri. Diduga perempuan empat anak ini terlebih dulu menghilangkan nyawa anak laki-laki satu-satunya dengan cara menenggelamkannya ke Sungai Ciateul, Desa Bojongsari. Jasad Herawati ditemukan dalam keadaan mengambang di Sungai Ciateul pukul 09.00 WIB. Selang dua jam, jasad Dika ditemukan. Tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh bocah tak berdosa ini. Kapolsek Bojongsoang AKP Sutarman mengungkapkan, jasad Herawati ditemukan secara tidak sengaja oleh seseorang yang tengah berada di dekat lokasi. Saat itu di pergelangan tangan kirinya tampak luka menganga sedalam 2 cm akibat sayatan . "Diduga Herawati sengaja menyayat pergelangan tangan kirinya dengan pisau dapur. Menurut salah seorang anaknya, pisau di rumahnya ada yang hilang. Diduga pisau itulah yang digunakan untuk mengakhiri hidupnya. Kami masih mencari pisau yang digunakan korban," kata AKP Sutarman di lokasi, Jumat (2/3). Dugaan bunuh diri semakin menguat setelah ditemukan dua lembar kertas dengan tulisan tangan korban di atas sajadah. Dalam suratnya Herawati menuturkan sejumlah hal. Di antaranya utang yang banyak, suami yang keras, dan tindakannya membawa Dika karena merasa mampu mengurusnya. Isi surat itu sama sekali tidak menuliskan rencana bunuh diri. Korban hanya mengatakan akan pergi tanpa tujuan dan hanya mengikuti langkah kaki bersama Dika. Ia juga sempat mendoakan anaknya yang lain agar selalu diberkati Tuhan. "Pihak keluarga menolak autopsi. Mereka beranggapan kejadian yang dialami Herawati dan anaknya sebagai musibah," kata Sutarman. Ditemui secara terpisah, Sulaeman (69), orangtua Herawati mengatakan, anak dan cucunya diketahui meninggalkan rumah sekitar pukul 02.00 WIB. Ia juga sempat berpapasan dengan salah seorang tetangganya yang mengira Herawati memang keluar untuk mencari warung yang buka. Saat itu, ia terlihat menggendong Dika. "Pagi-pagi kami sekeluarga panik, begitu mengetahui Herawati dan Dika tidak ada di rumah. Suaminya, anak-anaknya, dan saya ke sana kemari mencarinya. Bahkan sampai ke daerah Cipicung, Kec. Majalaya untuk menemui temannya, Hasan. Namun Hasan bilang Herawati tidak pernah datang menemuinya," papar Sulaeman. Saat dalam perjalanan pulang, sekitar pukul 11.00 WIB telepon seluler Sulaeman berdering. Ternyata anak kedua Herawati, Putri Rismonita mengabarkan bahwa ibunya ditemukan dalam keadaan meninggal. "Saya langsung lemas begitu mendengar kabar Herawati meninggal. Saat itu Dika belum ditemukan," katanya lirih. Orangtua Herawati, Sulaeman dan Acih sempat histeris begitu melihat anaknya sudah tak bernyawa. Bahkan Acih beberapa kali tak sadarkan diri. Ia semakin terpukul setelah mengetahui cucunya juga ditemukan dalam keadaan sama. Puluhan warga ikut menyalatkan jenazah di Masjid Al Hidayah. Jasad ibu dan anak ini dimakamkan di TPU Kebonpeuteuy. Saat pemakaman berlangsung, hujan turun. Langit seolah ikut menangis atas kejadian tragis yang menimpa ibu dan anak tersebut. (B.104)** (sumber:www.klik-galamedia.com)

Status Waspada Galunggung Bukan Ancaman

Nasional / Selasa, 28 Februari 2012 06:20 WIB
Metrotvnews.com, Tasikmalaya: Peningkatan aktivitas Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi waspada, bukanlah ancaman bahaya bagi masyarakat sekitar gunung.

Ha itu dikatakan Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi, Surono di Tasikmalaya, (27/2). "Baru waspada tenang-tenang saja, 'ngapain' mesti panik atau takut," kata Surono.

Perubahan status Galunggung diubah setelah adanya peningkatan kegempaan vulkanik dan berubahnya suhu air kawah ditetapkan sejak 12 Februaru 2012. Menurut Surono, adanya peningkatan status gunung tidak perlu ditanggapi masyarakat dengan kepanikan atau rasa takut secara berlebihan.

Karena status gunung aktif Galunggung, lanjut Surono, selalu berubah. Bahkan, kemungkinan akan kembali menurun statusnya menjadi normal.

"Bisa saja turun normal kembali dan masyarakat tidak perlu khawatir, karena kami akan selalu memberitahukan kalau aktifitasnya meningkat atau normal," katanya

Ia menyarankan kepada pemerintah daerah agar tetap selalu waspada dan mengikuti perkembangan status gunung kemudian menginformasikannya kembali kepada masyarakat.

Apabila pemerintah akan melakukan persiapan penanggulangan bencana letusan gunung, Surono mendukungnya sebagai langkah awal apabila terjadi letusan gunung.

"Saya kira pemerintah daerah melakukan langkah antisipasi wajar-wajar saja, tapi bukan berarti gunung mau meletus," katanya.

Terkait seluruh gunung aktif di Jawa Barat yang statusnya meningkat, kata Surono, hanya Gunung Galunggung di Tasikmalaya dan Gunung Papandayan di Garut, yang lainnya normal aktif. (Ant/Wrt3)
◄ Newer Post Older Post ►